Anjing yang dibawa ke lokasi perburuan, tidak bisa sembarangan
Di tepi jalan berjejer mobil dan motor, sedangkan pemiliknya memegang tali anjing dan memandang ke arah rimba yang ada di hadapannya. Tak lama kemudian, terdengar gonggongan anjing dari dalam rimba. Itu pertanda anjing pamuncak yang bertugas mengendus keberadaan babi berhasil menjalankan tugasnya.
Dengan gonggongannya dia seakan memberi tahu bahwa di hadapannya sudah ada babi. Tanpa menunggu orang-orang yang berdiri di tepi jalan memegang anjing melepaskan hewan peliharaannya. Anjing yang tadinya terikat lehernya langsung memburu ke dalam rimba.
Salak dan gonggongan anjing bersahut-sahutan memburu babi tersebut. Pemiliknya menyusul di belakang dengan membawa pisau atau pedang yang terselip di pinggang. Bahkan sebagian membawa senjata api, tentu saja bagi yang memiliki izin.
Anjing terus memburu dan berusaha melumpuhkan babi yang semakin terdesak, namun babi terus melawan. Semakin dia luka, maka perlawanannya akan semakin sengit. Anjing yang dilepas diupayakan menjadi “monster penakluk” terhadap babi hutan. Sorak-sorai melengking dari segala penjuru, pertanda buruan sedang dalam pengejaran.
Tak jarang tuan pemilik anjing harus turun tangan mempergunakan senjata tajam yang dimilikinya untuk membunuh binatang yang sering merusak tanaman warga itu.
Nah, ketika babi rebah, anjing kembali ke tepi jalan. Di sana akan masing-masing peburu akan melihat apakah anjingnnya berhasil bertemu dengan babi, ikut bertempur dan melumpuhkannya? Anjing jagoan biasanya ditandai dengan menempelnya darah dibagian kepala dan badan, atau setidaknya terdengar suara gonggongan bertubi-tubi dari kejauhan.
Tidak bisa dipungkiri, ketika peliharaannya kembali dengan mulut berdarah, adalah kebanggaan tersendiri bagi peburu. Semua pecinta olahraga buru babi berusaha mempunyai anjing yang selalu membanggakannya ketika pulang dari paburuan. Akhirnya, secara tidak disengaja, dalam olahraga buru babi terjadi adu gengsi.
Namun perlu dicatat adu gengsi di olahraga ini adalah adu gengsi dalam hal positif, karena di mana pun arena paburuan, semua peburu Sumbar terkenal dengan kekompakan dan persatuannya. Kehebatan anjing peburu kemudian menjadi cerita pemanis dalam paburuan, bahkan di lapau-lapau, atau di tepi jalan ketika sesama pemilik anjing bertemu saat melatih anjing di pagi hari atau di sore hari.
Seperti cerita Koseh 45, pecandu buru babi asal Koto Baru, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok. Dia menyebutkan, anjing yang dibawa ke lokasi perburuan tidak bisa sembarangan, namun ada kriterianya. Sebab bila anjing tidak sesuai kriteria yang ditentukan, katanya bisa membuat seseorang itu mati gaya. Apalagi berburu babi sudah menjadi suatu ajang cukup bergengsi.
“Anjing yang mantap biasanya memiliki kriteria khusus, bagian buntut tegak keatas, pusarnya dibagian paha dan dada cukup, gonggongan garang, dada lebar, telinga tegak, mata tajam, dan bahkan jika perlu lidahnya ada bintik hitam,” jelasnya.
Disebutkan Koseh, ketentuan tersebut tidak dimiliki oleh semua anjing jantan, makanya sebelum dibawa berburu para pencinta berburu mesti menyeleksi dulu calon jagoannya.
Banyak kalangan berkeyakinan anjing yang mantap adalah anjing impor alias dari Jawa, berbadan besar dan memiliki suara gonggongan besar. Namun menurut Koseh anjing kampung pun juga banyak yang tak kalah mantap, tatkala di arena perburuan sanggup lebih menerkam mangsanya.
Untuk tetap bisa tampil prima, anjing buruan tidak boleh dilepas seperti anjing liar. Pasalnya, dikhawatirkan akan kawin sembarangan dengan anjing kampung, atau berpotensi tertular penyakit.
Pemberian makanan harus dijaga, dimandikan secara teratur minimal dua kali sehari, dikasih bedak anti biang keringat, serta diberi vitamin sampingan penambah stamina, diimunisasi sesuai jadwalnya. Jika pemeliharaan dilakukan secara baik, usia anjing perburu bisa lebih sepuluh tahun.
Disinggung soal harga, diakui bapak empat anak ini bandrol seekor anjing peburu mencapai Rp50 jutaan, bahkan bisa lebih, tergantung sejauh mana sisi lebih yang dimilikinya. Namun untuk kelas junior, bisa didapat dengan harga Rp1 juta hingga Rp3 juta. Agar akrab dengan tuannya, tidak hilang di sasaran, anjing juga mesti diberi nama. “Sebelum membeli anjing yang harus diperhatikan adalah bagian gigi, taringnya harus runcing,” ujarnya.
Lain pula halnya dengan penuturan Darmawi,54, seorang pencandu berburu asal nagari Guguak, Kecamatan Gunung Talang, justru pihaknya mengaku lebih suka membawa anjing Jawa ke gelanggung perburuan, sebab menurutnya anjing impor tersebut memiliki ketahanan fisik lebih kuat ketimbang anjing kampung.
Sehingga semenjak menggeluti dunia berburu semenjak belasan tahun silam, Darmawi memakai anjing Jawa, setidaknya anjing hasil peranakan silang.
Sempat dikisahkannya sekitar lima tahun lalu ia pernah memakai anjing kampung yang dibeli dari teman seharga Rp1,5 juta. Alhasil, ia malah sempat merasa dipermalukan gara-gara ajing di arena perburuan mendadak patah semangat, menggonggong pun hanya sekali-sekali.
Sementara di Tanahdatar, juga terkenal dengan tempat berburu yang oke dan dihuni oleh orang-orang yang “gila” memiliki anjing hebat. Salah seorang pengusaha asal Jakarta yang tidak mau namanya dituliskan bahkan memiliki karyawan khusus untuk merawat anjingnya.
Setiap anjing yang dimilikinya harganya mencapai satu mobil Toyota Avanza baru. Sementara dia memiliki 6 ekor anjing sejenis. Setiap pagi dan sore anjingnya harus diajak jalan-jalan untuk mempertahankan kondisi tubuhnya. Kemudian, peliharaannya juga diberi latihan berenang.
Yang uniknya, ternyata makanan anjing-anjing ini juga diberi makanan khusus dari Jakarta dan diberi vaksin setiap periode tertentu. Untuk merawat Anjing ini, dua orang karyawan digaji Rp1 juta per bulannya.
Kata salah seorang peburu, dalam paburuan anjing-anjing pengusaha ini selalu jadi bintang. Namun, jika anjing ini sudah ada yang mengalahkannya, dia akan langsung menggantinya dengan anjing lain yang lebih hebat.
Tidak jarang dia harus membeli anjing yang jadi bintang di paburuan, walau berapa pun harga yang ditawarkan. (yulicef anthony/hijrah adi sukrial/padangekspres)