The following warnings occurred:
Warning [2] file_get_contents(http://graph.facebook.com/?ids=http://www.minangforum.com/Thread-Adakah-Atheis-Minang): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 403 Forbidden - Line: 806 - File: inc/plugins/fbmeta.php PHP 5.3.28 (Linux)
File Line Function
[PHP]   errorHandler->error
/inc/plugins/fbmeta.php 806 file_get_contents
/showthread.php(1196) : eval()'d code(42) : eval()'d code 1 fb_comment_count
/showthread.php(1196) : eval()'d code 42 eval
/showthread.php 1196 eval
Warning [2] file_get_contents(http://graph.facebook.com/?ids=http://www.minangforum.com/Thread-Adakah-Atheis-Minang): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 403 Forbidden - Line: 806 - File: inc/plugins/fbmeta.php PHP 5.3.28 (Linux)
File Line Function
[PHP]   errorHandler->error
/inc/plugins/fbmeta.php 806 file_get_contents
/showthread.php(1196) : eval()'d code(131) : eval()'d code 1 fb_comment_count
/showthread.php(1196) : eval()'d code 131 eval
/showthread.php 1196 eval



Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
02-08-2012 08:51 AM

pangeran Offline
*

  • Dec 2008
  • 1.108 posts
  • reputations
  • 3 thanks
    Given 14 thank(s) in 12 post(s)
Post: #1
Adakah Atheis Minang?
Atheis, kata yang kembali ramai diperbincangkan setelah pengakuan yang menghebohkan dari seorang anak muda bernama Alexander Aan. Tanpa basa-basi, CPNS Dharmasraya itu mengungkapkan dirinya seorang atheis alias tidak beragama. Setelah pelaporan dari MUI dan LSM setempat, perkara penistaan agama itu pun bergulir ke ranah hukum.
Pengakuan Aan tak hanya menggemparkan pihak keluarga atau publik Sumatera Barat tapi juga menyentak harga diri orang Minang. Pun bukan hanya menghiasi media lokal tapi juga menembus redaksi media nasional termasuk media Islam.
Situs jejaring sosial juga ramai membicarakan tentang sikap dan prilaku seorang Alexander Aan yang dinilai telah mencorengkan arang di kening Orang Minang.
Beragam tanggapan dan opini pun bermunculan sekaitan dengan kasus yang mencuat di penghujung 2011 itu. Saya kemudian juga tertarik menulis sebuah tulisan, setelah seorang teman di facebook bertanya, benarkah di Minang ada atheisme atau faham yang tidak mengakui keberadaan Tuhan?
Pengakuan Alexander Aan saja, sudah membuat kita terhenyak. Pertanyaan teman ini pun cukup menyentak. Sebab kalau dilihat dari filosofi adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (ABS-SBK), jelas mustahil bisa terjadi atau katakanlah ada generasi muda Minang yang menjadi seorang atheis. Dengan kata lain, yang namanya orang Minang, pasti beragama Islam.
Jika dia keluar dari agama Islam karena satu dan lain sebab, pasti akan diusir dari kampung dan tidak lagi diakui sebagai anak kemenakan oleh orangtua dan mamaknya. Orang Minang pasti beragama Islam, itu harga mati!
Pertanyaan inilah yang membawa saya kemudian menelusuri lebih jauh tentang atheis di Ranah Minang. Ternyata, ada sebuah page (halaman) bernama Ateis Minang Maimbau.
Sebuah laman yang membahas tentang persoalan atheisme. Berbeda dengan akun facebook, laman ini bisa diakses dan dikomentari oleh semua pengguna jejaring sosial tersebut. Tidak terlalu ramai memang.
Admin-nya juga tidak jelas siapa. Bisa ditebak, laman ini mendapat komentar dan kritik pedas dari sejumlah pengunjungnya, terutama mereka yang keberatan dengan pemakaian nama Minang di laman tersebut.
Secara umum bisa disimpulkan admin halaman tersebut, orang yang pintar, bukan orang bodoh. Ini sekaligus menjawab, kenapa ada anak muda Minang sejenius Alexander Aan misalnya yang alumni Unpad bisa terjerumus kepada faham atheis. Ternyata, untuk menjadi seorang atheis, memang harus pintar. Karena ia akan mencari perbandingan antara ilmu pengetahuan (sains) yang bisa dinalar logika dengan keberadaan Tuhan yang bersifat gaib.
Tungku Tigo Sajarangan
Semua kita mungkin sepakat, sejarah keminangkabauan orang Minang tidak bisa dipisahkan dari peradaban Islam. Makanya tidak heran, Ranah Minang melahirkan banyak ulama besar baik berskala nasional bahkan internasional.
Menyebut nama Buya Hamka adalah salah satunya. Dulu, Sumbar juga menjadi tujuan (destinasi) untuk mem pelajari Islam, terutama dari negara tetangga. Kini, yang terjadi sebaliknya.
Demikian juga dalam sistem pemerintahan, yang memberdayakan tiga elemen, cadiak pandai, alim ulama dan niniak mamak atau yang lebih dikenal dengan sebutan tungku tigo sajarangan.
Sinergisitas tiga variabel inilah yang seharusnya mengaplikasikan filosofi ABS-SBK sebagai identitas orang Minang dalam kehidupan sehari-hari.
Sayangnya, ABS-SBK hanya tinggal semboyan belaka, seperti pepesan kosong tanpa makna. ABS-SBK hanya menjadi symbol normatif tanpa aplikasi nyata di tengah masyarakat Minangkabau dalam konteks kekinian. Alhasil, agama pun hanya sebatas dokritinisasi dan formalitas semata.
Lihatlah, para cadiak pandai (ilmuwan/cendekiawan) sibuk dengan ilmu dan kepandaiannya sendiri. Ia bang ga dengan ilmu yang dimilikinya. Sibuk memperkaya diri dengan ilmu dan kepandaiannya itu. Pada tataran inilah, seorang Alexander Aan berdiri, seorang jenius yang menyandingkan sains dan agama sebatas dogmatis dan pragmatis.
Akhirnya, ia terjebak pada pemikiran Allah SWT tidak terlibat dalam penciptaan jagat raya ini.
Lalu, para alim ulama. Pihak yang sejatinya mengayomi dan berperan besar dalam pembinaan umat, semakin hari kian merosot baik dari sisi kuantitas apalagi kualitas. Para kiai atau ulama kharismatik telah berganti haluan, lebih condong mengu rus urusan duniawi dengan terjun ke dunia politik praktis daripada mengurus umat.
Kini berganti dengan ustadz-ustadz gaul yang hanya mengejar popularitas semata, bergaya bak selebritis pula. Sehingga umat kehilangan figur panutan yang bisa ditiru dan digugu. Lagi-lagi, agama hanya berperan sebagai life style, ritual tanpa ruh bukan pegangan hidup sejati.
Terakhir, ninik mamak. Dulunya, ninik mamak memiliki peranan yang sangat fundamental dalam tatanan kekerabatan di Minangkabau. Elemen yang berperan penting dalam pembinaan anak kemenakannya itu, justru ma kin tergerus keberadaannya.
Sehinga petuah yang sangat indah, anak dipangku kemenakan dibimbing, sudah jarang, kalau tidak boleh dikatakan tidak ada lagi di zaman sekarang. Mamak tidak tahu dengan kemenakan, kemenakan pun tak ambil pusing dengan mamaknya.
Selama ini kita orang Minang hidup terlena dan terbuai oleh masa keemasan di masa lalu, terpesona oleh filosofi ABS-SBK yang non aplikatif, terbuai bahwa negeri kita adalah penghasil ulama berkaliber nasional bahkan internasional.
Kita terlelap dalam euphoria tersebut. Akibatnya, ketika muncul pengakuan seorang Alexander Aan yang mengklaim dirinya atheis, semua menjadi kebakaran jenggot, merasa tertampar harga dirinya sebagai orang Minang.
Sekarang, nasi sudah men jadi bubur. Enak atau tidak, harus tetap ditelan. Tak perlu juga mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Tidak perlu juga terus-terusan mendiskreditkan Alexander Aan dan keluarganya. Apalagi, seperti yang dituturkan ibunya, pemuda kalem itu sudah bertobat dan minta kembali disyahadatkan.
Kalau kemudian pihak kepolisian terus memproses kasus ini dan menyelidiki jaringan Alexander, itu merupakan proses hukum yang harus ditaati semua pihak.
Kasus Alexander ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia mencoreng dan menampar harga diri orang Minang. Tapi di sisi lain, kasus ini telah menyadarkan kita semua, betapa globalisasi telah mengikis nilai-nilai dan tatanan kemasyarakatan yang dulu begitu erat dipegang orang Minang.
Tak perlu gusar, marah secara membabi buta, ini momentum yang baik untuk berbenah diri, mengembalikan jati diri orang Minang. (singgalang/MIRAWATI UNIANG)
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Agama Orang Minang Mayoritas Islam
  pengaruh adat minang dalam penyebaran islam
  rfianda Abidin Datuk Penghulu Basa: Kejayaan Islam akan Kembali Terwujud di Minang
  Pengaruh Syiah di Ranah Minang
  Paradoks Ekonomi Islam di Ranah Minang
  Peribahasa Minang Bidang Agama Adaik baulua jo bapatuik,
  Busana Perempuan Minang dalam kebenaran Islam